Kanker serviks adalah salah satu kanker yang paling banyak menyerang perempuan di Indonesia. Kabar baiknya, penyebab utamanya sudah diketahui dengan jelas. Dengan tahu penyebab dan faktor risikonya, kita bisa lebih waspada dan melakukan pencegahan sejak dini.
Kanker Serviks menjadi tema yang dibahas oleh narasumber dari RSUD 45, dr. Yan O’Neil S Meliala, SpOG., MKes di Talkshow dan Podcast hari Rabu 24 Juni 2026 yang disiarkan di 100,5 Radio Kuningan FM, live di akun Tiktok Radio Kuningan Fm dan akun instagram, RSUD 45 Kuningan.
Penyebab Utama dari kanker serviks adalah Virus HPV atau Human Papillomavirus. Virus HPV yang paling berisiko memicu kanker serviks adalah tipe 16 dan 18. Kedua tipe ini disebut onkogenik karena bisa mengubah sel normal di leher rahim menjadi sel kanker jika infeksi berlangsung lama dan tidak ditangani. Jadi bisa dibilang, tanpa infeksi HPV tipe risiko tinggi, kanker serviks hampir tidak akan terjadi.
Virus HPV sangat mudah menular. Cara penularan yang paling umum adalah melalui kontak seksual, termasuk seks vaginal, anal, maupun oral dengan orang yang terinfeksi. Perlu diingat: HPV bisa menular meskipun tidak ada penetrasi. Seseorang bisa terinfeksi HPV dan tidak menunjukkan gejala sama sekali selama bertahun-tahun.
Selain HPV, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan terkena kanker serviks yaitu
Berganti-ganti pasangan seksual. Semakin banyak pasangan seksual, semakin besar peluang terpapar berbagai tipe HPV.
Merokok, Zat kimia dalam rokok bisa merusak sel-sel di leher rahim dan melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi HPV.
Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya pada penderita HIV, autoimun, atau sedang menjalani pengobatan tertentu. Saat imun turun, tubuh jadi sulit membersihkan virus HPV.
Riwayat infeksi menular seksual lainnya. Infeksi seperti klamidia atau gonore bisa menyebabkan peradangan kronis di serviks yang mempermudah perkembangan kanker.
Pada stadium awal, kanker serviks biasanya tidak menimbulkan keluhan. Namun, ketika sudah memasuki stadium lanjut, beberapa gejala yang sering muncul meliputi:
Perdarahan vagina yang tidak normal (di luar siklus menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah menopause).
Keputihan yang tidak biasa, berwarna kuning, kehijauan, berbau busuk, atau bercampur darah.
Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia).
Nyeri panggul atau punggung bagian bawah.
Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Pilihan pengobatan untuk kanker serviks bergantung pada stadium kanker, ukuran tumor, dan kondisi pasien secara keseluruhan. Beberapa metode medis yang umum dilakukan meliputi:
Operasi: Seperti histerektomi (pengangkatan rahim) untuk kasus kanker stadium awal.
Radioterapi: Penggunaan sinar radiasi untuk membunuh sel kanker.
Kemoterapi: Penggunaan obat-obatan khusus untuk menghancurkan sel kanker.
Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang sangat bisa dicegah melalui langkah-langkah berikut:
Vaksinasi HPV, sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak perempuan usia 9–14 tahun. Vaksin ini juga dapat diberikan kepada wanita dewasa yang belum aktif maupun sudah aktif secara seksual.
Skrining Rutin: Lakukan deteksi dini secara berkala, seperti tes Pap Smear (minimal setiap 3 tahun) atau tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat).
Praktik Seks Aman: Menggunakan kondom dan setia pada satu pasangan
Full video bisa disaksikan di akun Youtube Radio Kuningan FM.